wirania swasty

PIKTOGRAM

Di lingkungan sekitar baik di gedung perkantoran, taman terbuka, jalan raya dan sebagainya kita sering melihat gambar figure yang distilasi yang digunakan untuk informasi. Lambang-lambang tersebut merujuk benda, aksi, proses, atau layanan. Piktogram adalah simbol yang menyampaikan suatu makna melalui…

Bentuk Signage

Sign membutuhkan pemahaman tempat yang akan dirancang dan urutan pesan yang akan dikomunikasikan, hal tersebut dapat menjadi panduan bagi desainer dalam menentukan di mana dan bagaimana untuk memasang sign. (Gibson, 2009:110). Sign tak secara ajaib mengambang di lokasi, tapi harus…

Layout & Tipografi pada Signage

Apa yang membuat identification sign ini begitu memesona? Apakah hanya pilihan typeface, …. atau juga bagaimana diterjemahkan dalam konteks, skala, warna atau material? Pada kenyataannya, semua pertimbangan di atas memiliki peranan tersendiri. Tipografi yang ekspresif dapat membuat perbedaan dan menjadikan environmental…

Klasifikasi Signage

Environmental Graphic Design  merupakan segala macam bentuk grafis yang bisa dijumpai di sebuah lingkungan yang dapat diakses oleh publik. Adapun hal pokok yang harus diperhatikan dalam EGD antara lain: pesan dapat menyampaikan komunikasi pesan dan informasi yang dapat dipahami secara singkat,…

Environmental Graphic Design

Teras Cikapundung-Babakan Siliwangi Bandung

 

Environmental Graphic Design (EGD) merangkul berbagai disiplin ilmu desain mulai dari urban desain, arsitektur, desain interior hingga desain grafis. Untuk lebih jelasnya, lihat bagan di bawah ini:

EGD juga berkenaan dengan aspek visual wayfinding, mengomunikasikan identitas dan informasi, membentuk gagasan untuk menciptakan pengalaman yang menghubungkan orang ke tempat (Calori, 2007).

Pada praktek di lapangan, banyak profesi yang terlibat dalam mengelola proyek EGD, mulai dari insinyur, arsitek hingga desainer. Sehingga sering terjadi GAP. Untuk itu, desainer grafis harus belajar bentuk 3D, material, skala, menafsirkan gambar kerja, dan basic drafting. Sementara Arsitek harus belajar komunikasi visual, pinsip desain 2D dan teknik penerapan grafis. Berikut bagan yang menggambarkan aktivitas EGD:

Mari kita bahas satu per satu.

Wayfinding atau Signage

Signage atau wayfinding? Menurut Calori (2007), dua istilah tersebut interchangeably, maksudnya dapat diganti-ganti, namun tetap ada perbedaan. Tujuan program signage membantu orang dalam menemukan arahnya dalam suatu lingkungan; sementara solusi wayfinding yang efektif membutuhkan lebih dari satu signage. Selain itu, tujuan utama wayfinding agar seseorang dapat membentuk “peta mental” suatu tempat atau lingkungan. Signage merupakan penjelasan dengan menggunakan media visual secara simbolik grafik yang merupakan bagian dari media interaksi non verbal kepada public (Tinarbuko, 2008).

Area Candi Prambanan-Jogjakarta

Interpretive

EGD ini menceritakan tentang suatu konsep, benda, lokasi, event, figure bersejarah, perusahaan dan produknya, dan sebagainya. Interpretive atau penafsiran meliputi tempat itu sendiri, artefak, audiovisual, media interaktif, bentuk statis, grafik, dsb. Interpretive beririsan dengan signage; di mana informasi dalam bentuk teks/ gambar dapat dipajang dalam program signage.

Area Candi Prambanan-Jogjakarta

Placemaking

Aktivitas EGD lainnya adalah Placemaking. Placemaking bertujuan menciptakan citra berbeda untuk suatu tempat melalui adanya komunikasi eksplisit dari suatu informasi. Signage dapat memerankan placemaking dengan menciptakan identitas unik dan suasana “sense of place”; serta menciptakan citra merek dalam suatu lingkungan terbangun.

Wendy’s Pasific Place-Jakarta

 

Bagaimana signage berkaitan dg branding? Jika dipahami lebih dalam mengenai placemaking, maka terjawablah kaitan antara signage dan branding. Komunikasi dengan membangun program layanan yg komprehensif. Simbol, warna, nama, signage, arsitektur dan landscap menekankan identitas dan menciptakan “suasana”. Praktik membranding suatu lingkungan agar terasa berbeda juga dikenal sebagai “placemaking” (Harris dalam Gibson, 2009)
Signage yang dirancang dengan baik biasanya menyajikan visual yang dapat menyatukan sebuah tempat, dan berperan sebagai placemaking untuk membuat sebuah identitas yang unik dan persepsi khusus, sehingga secara efektif menciptakan brand image dalam lingkungan terbangun.

 

Referensi:

Calori, C. (2007). Signage and Wayfinding Design: A Complete Guide to Creating Environmental Graphic Design Sistems. New Jersey: John Wiley & Sons.

Gibson, D. 2009. The Wayfinding Handbook: Information Design for Public Places. New York: Princeton Architectural Press.

Tinarbuko, Sumbo (2008). Semiotika Komunikasi Visual. Yogyakarta : Jalasutra.

 

 

Branding | Review Buku

Jpeg

Branding: Memahami dan Merancang Strategi Merek

Buku Branding: Memahami dan Merancang Strategi Merek ini menguraikan wawasan mengenai cara mencapai tujuan merek.  Merek yang dibahas dalam buku ini sebagian besar merupakan merek-merek lokal dan juga merek global yang populer. Buku Branding: Memahami dan Merancang Strategi Merek ini dapat diterapkan untuk semua jenis usaha/ bisnis.

Dalam buku ini, Anda akan dipandu membangun sebuah merek yang kuat dan tertanam di benak konsumen, mulai dari pemahaman akan perbedaan merek dan produk, apa saja yang dibranding, unsur-unsur pembentuk merek, strategi branding hingga bagaimana mengukur ekuitas merek.

Pada bab terakhir terdapat langkah-langkah bagaimana mengaudit merek, mulai dari menyusun inventaris merek hingga wawasan pelanggan dan analisis merek pesaing yang tercakup dalam eksploratori merek. Selain mengkaji teori, buku ini disertai sharing dari praktisi yang berpengalaman di bidangnya.

 

Dapatkan di toko-toko buku terdekat di kota Anda atau di sini…!

Selamat membaca! Semoga bermanfaat

 

 

Sitasi (Harvard Style):

Swasty, W., 2016. Branding: Memahami dan Merancang Strategi Merek. Bandung: Remaja Rosdakarya.

 

Sitasi (APA Style):

Swasty, W. (2016). Branding: Memahami dan Merancang Strategi Merek. Bandung: Remaja Rosdakarya.

 

 

Inovasi Model Bisnis untuk UKM

Berbekal dari beberapa pengalaman membina Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di kota Bandung dan Cimahi; dipadukan dengan teori yang diperdalam ketika menyusun thesis mengenai pengembangan bisnis model, tersusunlah sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal the Winners yang diterbitkan Universitas Bina Nusantara (BINUS).

Pada intinya, UKM di Indonesia memiliki permasalahan yang sama yaitu dalam hal permodalan, produksi dan branding.  Dengan dilakukan mapping yang dituangkan ke dalam Business Model Canvas, penulis mengusulkan beberapa hal yang sekiranya dapat diterapkan oleh pelaku UKM pada setiap 9 building blocks dalam kanvas tersebut.

Ya, Business Model Canvas yang digagas Osterwalder & Pigneur (2010) ini memang membuat strategi lebih fokus dan terukur. Inovasi bisnis model diharapkan dapat meningkatkan kinerja UKM. Studi menggunakan pendekatan kualitatif dengan melakukan pendampingan pada empat UKM di Desa Babakan Penghulu– Kecamatan Cinambo, Bandung. Makalah ini bertujuan untuk mengungkapkan inovasi model bisnis bagi UKM terutama industri busana dan garmen.

 

Untuk artikel lengkap, silakan unduh DI SINI.

 

Sitasi (Harvard Style):

Swasty, W., 2015. Business Model Innovation for Small Medium Enterprises. The Winners, 16(2), hh 85-95.

 

Sitasi (APA Style):

Swasty, W. (2015). Business Model Innovation for Small Medium Enterprises. The Winners, 16(2), 85-95.

 

Desain Kemasan

Artikel ini merupakan isi materi pelatihan “Membangun Brand Awareness Dan Keputusan Pembelian Masyarakat Akan Hasil Produksi Pertanian Melalui Kemasan”. Pelatihan yang merupakan salah satu program Pengabdian kepada Masyarakat Telkom University ini diadakan bagi  Inkubator Usaha Tani (IUT) di Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang pada tanggal 20 Juli 2016. Inkubator Usaha Tani (IUT) BBPP Lembang saat ini menghasilkan berbagai produk olahan pertanian seperti stik wortel, dodol lidah buaya, kripik bayam, krupuk bawang, egg roll jagung, serbuk jeruk dan sebagainya. Produk yang ada sekarang memiliki unique selling proposition dan berpotensi untuk dikomersialisasikan. Akan tetapi, kemasan dan label yang digunakannya masih sederhana dan kurang memiliki nilai jual. Untuk itu, pelatihan produk kemasan diharap dapat meningkatkan brand awareness terhadap produk olahan hasil pertanian yang dihasilkan oleh Inkubator Usaha Tani (IUT).  Tak hanya bagi IUT, kemasan dibutuhkan pula bagi para pelaku usaha kecil terutama agar produk hasil olahan pertanian yang dihasilkan dapat bersaing di pasaran. Dengan desain kemasan yang menarik, hal ini tentunya dapat membantu mempengaruhi keputusan pembelian konsumen.

 

Kemasan

Pada mulanya, desain kemasan berawal dari kebutuhan manusia akan barang, dan sejak abad ke-8 SM, berbagai bahan alami contohnya daun, kulit pohon, kulit kerang dan anyaman rumput digunakan sebagai peti kemas penyimpanan barang. Sayur labu berongga menginspirasi bentuk botol kaca dan daun sebagai cikal bakal kantung kertas dan bungkus plastik. Kemasan dapat mencegah kerusakan kualitas makanan dan minuman yang disebabkan oleh pengaruh lingkungan (Restuccia et al., dalam Han, 2013), dan berkontribusi untuk pengiriman yang efektif, penjualan, dan konsumsi. Fungsi utama dari pengemasan adalah untuk menjaga keawetan dan keamanan pengiriman produk makanan sampai dikonsumsi. Fungsi utama yang kedua dari pengemasan adalah pemasaran (Han, 2013).

Memahami faktor teknis desain kemasan, Klimchuk dan Krasovec (2007) beragumen bahwa ini merupakan isu penting bagi desainer saat ini. Mengapa? Mereka beragumen bahwa hal tersebut untuk menghindari menciptakan sesuatu yang tak dapat diproduksi atau tak sesuai dengan mesin-mesin produksi baru. Pemahaman yang mendalam tentang bahan kemasan, proses produksi, percetakan, pelabelan hingga pengiriman adalah penting. Menurut Keller (2013), kemasan merupakan salah satu dari unsure merek (brand elements). Dengan demikian, kemasan yang unik diharapkan akan meningkatkan brand awareness masyarakat terhadap merek tersebut.

Kemasan Primer adalah kemasan yang bahan kemasannya langsung kontak dengan bahan pangan.

Contoh: Botol minuman, bungkus cokelat, bungkus kopi bubuk dan sebagainya.

Kemasan Sekunder adalah kemasan yang fungsi utamanya melindungi kelompok kemasan lainnya.

Contoh: Kotak karton dan paper bag.

2.6 kemasan primer sekunder

kemasan primer dan sekunder

Fungsi kemasan

  • Menjaga produk agar tetap bersih
  • Memudahkan penakaran atau pembungkusan
  • Melindungi dari cuaca, dari kondisi basah atau kering
  • Memudahkan pengiriman serta transportasi
  • Membantu promosi dan penjualan

 

Peran kemasan

  • Melindungi produk
  • mengkomunikasikan produknya kepada calon pembeli
  • Membedakan dengan produk sejenis yang ada di pasaran

 

Bentuk dan Bahan

Bentuk dan Bahan Kemasan ditentukan oleh jenis produk  yang akan dilindunginya. Pertimbangan yang pertama adalah jenis produk yang dikemas. Apakah itu cairan, bubuk tepung, benda padat? Apakah produk tersebut empuk atau keras, tahan  atau tidak tahan panas atau cahaya? Pertimbangan selanjutnya adalah jenis kegunaan dari produk yang dikemas; apakah itu makanan, peralatan, mainan, kerajinan dan sebagainya. Pertimbangan lain yang tak kalah penting adalah jenis bahan kemasan, satuan ukurannya, cara pengiriman dan cara pemajangannya.

Kemasan dari kertas pada umumnya digunakan untuk mengemas produk-produk yang ringan, tidak memerlukan proteksi iklim, tekanan, transportasi dan langsung bisa digunakan. Kemasan yang sederhana dengan bentuk persegi empat mudah dibuat dan tidak memerlukan mesin potong khusus. Contoh : kemasan kentang goreng McDonald’s. Kemasan kertas ini cocok untuk usaha kecil.

Selain pertimbangan yang memperhatikan produk yang dikemas, faktor luar yang perlu diperhatikan juga adalah konsumen.  Desain Kemasan harus pula mempertimbangkan  siapakah konsumennya, di lingkungan mana produk tersebut akan bersaing? Pada harga jual berapa produk akan dijual?

 

PDP

Primary Design Panel atau Panel Display Utama terdapat pada bagian depan kemasan.  PDP merupakan area yang penting dalam aspek komunikasi visual dan strategi pemasaran. Elemen yang terdapat dalam PDP :

  • Simbol / Logo Merk
  • Nama Merk
  • Nama Produk
  • Komposisi
  • Berat Bersih, Informasi Nilai Gizi
  • Tanggal kadaluarsa, peringatan bahaya, aturan penggunaan
  • Barkode

 

Kerupuk_Keripik cs51-01

Kerupuk_Keripik cs51-02

Label kemasan (Desain Firdaus R. Amrullah, Foto Bawang: Rizky Yantami Arumsari)

REFERENSI

Klimchuk, M.R., dan Krasovec, S.A. (2007). Desain Kemasan: Perencanaan Merek Produk yang Berhasil Muliia dari Konsep sampai Penjualan. Jakarta: Penerbit Erlangga

Keller, Kevin L., et.al. (2013). Strategic Brand Management. Pearson Education Limited

Han, Jung H. (2013). Innovations in Food Packaging. USA : Elsevier

co-branding

Jpeg

Chitato rasa Mi goreng

Bagi yang suka cemilan, tentunya sudah pernah coba Chitato rasa Indomie Mi goreng dong? Kripik yang diproduksi oleh Indofood ini mengeluarkan varian rasa terbaru yaitu rasa Mi goreng! Indomie rasa Mi Goreng  sendiri memang cukup populer terutama buat anak kost yang ingin masak secara praktis. Ketika Indofood mengeluarkan Chitato rasa Indomie Mi goreng, tentunya inovasi rasa ini menambah keingintahuan khalayak, yang ingin mencoba sensasi makan mie goreng dalam bentuk kripik! Strategi ini dalam ilmu branding dikenal dengan istilah co-branding.

Co-branding disebut juga brand bundling atau brand aliansi. Strategi branding yang satu ini terjadi ketika dua brand atau lebih  digabungkan menjadi satu produk bersama atau dipasarkan bersama-sama dalam beberapa cara.[i] Lalu, apa sih keuntungannya? Jelas, dengan menerapkan strategi branding ini, keuntungan utama adalah produk dapat diposisikan secara unik dan membuat poin-perbedaan atau unique selling proportition  yang lebih menarik daripada merek yang ada sebelumnya. Tentu saja hal ini dapat membuka kesempatan dalam meraih pelanggan baru serta  meningkatkan penjualan yang lebih besar.

Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana membuat co-brand yang kuat. Kedua merek yang ada, dalam kasus ini Chitato dan Indofood, harus memiliki brand awareness yang memadai; asosiasi yang cukup kuat dan unik; serta memiliki judgment dan feeling pelanggan yang positif. Agar program pemasaran gabungan dapat dimaksimalkan, yang paling penting adalah kesesuaian antara kedua merek, yang dibundling tersebut. Dengan demikian, strategi ini dapat meminimalkan kerugian yang mungkin timbul. [ii] Contoh lain dari co-brand ini adalah Rinso-Molto yang dikeluarkan oleh Unilever.

 

Diskusi

Sebutkan produk atau service lain yang menggunakan strategi branding co-branding ini?

 

[i] Keller, Kevin Lane, 2013. Strategic Brand Management 4th Global Ed. Boston: Pearson

[ii] Rao, Akshay R. 1997. “Strategic Brand Alliances,” Journal of Brand Management 5, no. 2 : 111–119.