wirania swasty

Environmental Graphic Design

Teras Cikapundung-Babakan Siliwangi Bandung

 

Environmental Graphic Design (EGD) merangkul berbagai disiplin ilmu desain mulai dari urban desain, arsitektur, desain interior hingga desain grafis. Untuk lebih jelasnya, lihat bagan di bawah ini:

EGD juga berkenaan dengan aspek visual wayfinding, mengomunikasikan identitas dan informasi, membentuk gagasan untuk menciptakan pengalaman yang menghubungkan orang ke tempat (Calori, 2007).

Pada praktek di lapangan, banyak profesi yang terlibat dalam mengelola proyek EGD, mulai dari insinyur, arsitek hingga desainer. Sehingga sering terjadi GAP. Untuk itu, desainer grafis harus belajar bentuk 3D, material, skala, menafsirkan gambar kerja, dan basic drafting. Sementara Arsitek harus belajar komunikasi visual, pinsip desain 2D dan teknik penerapan grafis. Berikut bagan yang menggambarkan aktivitas EGD:

Mari kita bahas satu per satu.

Wayfinding atau Signage

Signage atau wayfinding? Menurut Calori (2007), dua istilah tersebut interchangeably, maksudnya dapat diganti-ganti, namun tetap ada perbedaan. Tujuan program signage membantu orang dalam menemukan arahnya dalam suatu lingkungan; sementara solusi wayfinding yang efektif membutuhkan lebih dari satu signage. Selain itu, tujuan utama wayfinding agar seseorang dapat membentuk “peta mental” suatu tempat atau lingkungan. Signage merupakan penjelasan dengan menggunakan media visual secara simbolik grafik yang merupakan bagian dari media interaksi non verbal kepada public (Tinarbuko, 2008).

Area Candi Prambanan-Jogjakarta

Interpretive

EGD ini menceritakan tentang suatu konsep, benda, lokasi, event, figure bersejarah, perusahaan dan produknya, dan sebagainya. Interpretive atau penafsiran meliputi tempat itu sendiri, artefak, audiovisual, media interaktif, bentuk statis, grafik, dsb. Interpretive beririsan dengan signage; di mana informasi dalam bentuk teks/ gambar dapat dipajang dalam program signage.

Area Candi Prambanan-Jogjakarta

Placemaking

Aktivitas EGD lainnya adalah Placemaking. Placemaking bertujuan menciptakan citra berbeda untuk suatu tempat melalui adanya komunikasi eksplisit dari suatu informasi. Signage dapat memerankan placemaking dengan menciptakan identitas unik dan suasana “sense of place”; serta menciptakan citra merek dalam suatu lingkungan terbangun.

Wendy’s Pasific Place-Jakarta

 

Bagaimana signage berkaitan dg branding? Jika dipahami lebih dalam mengenai placemaking, maka terjawablah kaitan antara signage dan branding. Komunikasi dengan membangun program layanan yg komprehensif. Simbol, warna, nama, signage, arsitektur dan landscap menekankan identitas dan menciptakan “suasana”. Praktik membranding suatu lingkungan agar terasa berbeda juga dikenal sebagai “placemaking” (Harris dalam Gibson, 2009)
Signage yang dirancang dengan baik biasanya menyajikan visual yang dapat menyatukan sebuah tempat, dan berperan sebagai placemaking untuk membuat sebuah identitas yang unik dan persepsi khusus, sehingga secara efektif menciptakan brand image dalam lingkungan terbangun.

 

Referensi:

Calori, C. (2007). Signage and Wayfinding Design: A Complete Guide to Creating Environmental Graphic Design Sistems. New Jersey: John Wiley & Sons.

Gibson, D. 2009. The Wayfinding Handbook: Information Design for Public Places. New York: Princeton Architectural Press.

Tinarbuko, Sumbo (2008). Semiotika Komunikasi Visual. Yogyakarta : Jalasutra.

 

 

Leave a Reply

%d bloggers like this: