wirania swasty

Etika Bisnis

Etika berasal dari Bahasa Yunani “ethos” yang artinya adat kebiasaan yang berhubungan tingkah laku manusia dan prinsip-prinsip tentang tindakan moral yang benar. Moralitas merupakan sistem nilai tentang bagaimana hidup secara baik sebagai manusia. Moral berhubungan dengan tindakan manusia yang sesuai dengan ukuran/ standard yang diterima oleh umum (standard of conduct). Standard tingkah laku yang memimpin individu dalam membuat keputusan, apa yang akan diperbuat, dikatakan dsb. Suatu tindakan dianggap beretika apabila Anda pun tidak keberatan jika orang lain melakukan hal itu terhadap diri Anda, sesuai dengan prinsip timbal-balik. Dengan kata lain, etika merupakan tradisi kepercayaan tentang perilaku yang baik dan buruk. Etika berhubungan dengan yang benar dan yang salah dan pilihan moral yang dilakukan seseorang.

Dalam menjalankan bisnis, pelaku bisnis pun harus memiliki etika bisnis. Apakah etika bisnis itu? Menurut Boone and Curtz (2002:44), etika bisnis adalah standar perilaku dan nilai-nilai moral yang mengontrol tindakan serta keputusan pelaku bisnis. Definisi lain menyebutkan etika bisnis sebagai pemikiran atau refleksi tentang moralitas dalam ekonomi dan bisnis (Bertens, 2000). Mengapa diperlukan etika dalam bisnis? Sebelumnya, norma hukum terasa kaku, lama dalam proses legalisasi dan kurang menyeluruh dalam hal mengatur segala sesuatu terutama dalam kondisi di luar kebiasaan. Dan sesuatu yang legal pun belum tentu etis. Untuk itu, dikeluarkan norma etika yang melengkapi kelemahan-kelemahan dalam norma hukum.

Lalu apa saja kekuatan yang membentuk etika bisnis? Yang utama adalah individu yang melakukan dan menegakkan etika itu sendiri, seperti karyawan hingga manager suatu perusahaan. Selain itu, kekuatan organisasional turut membentuk etika bisnis. Selain itu, kekuatan eksternal seperti hukum yang berlaku pun turut membentuk etika bisnis dalam suatu perusahaan. Tentu saja masyarakat sekitar tempat bisnis tersebut dijalankan turut membentuk dan mempengaruhi etika bisnis.

Namun demikian, kita terkadang dihadapkan pada dilema dalam praktik bisnis yang beretika. Yang pertama adalah Konflik Kepentingan, merupakan situasi dimana keputusan yang diambil terpengaruh oleh kepentingan/keuntungan pribadi (kasus suap pada beberapa skandal kredit macet). Konflik kepentingan juga timbul jika seorang karyawan harus memilih antara mementingkan kepentingan atasannya atau melakukan sesuai prosedur. Dilema lainnya yakni Kejujuran & Integritas, dimana seorang karyawan harus mengemukakan fakta yang sebenarnya dan menjunjung tinggi prinsip-prinsip etika di dalam semua keputusan bisnis. Pelaku bisnis mengharapkan para karyawannya untuk loyal sekaligus “benar”. Oleh karena itu, terkadang karyawan dihadapkan pada dilemma Loyalitas vs. Kebenaran. Dan dilema lainnya adalah Whistleblowing. Pengungkapan karyawan kepada publik, pemerintah maupun media atas praktek-praktek yang sifatnya melanggar etika, ilegal, atau amoral didalam perusahaan/ organisasinya merupakan suatu dilema juga. Terkadang mengungkapkan fakta akan ditentang banyak orang atau beresiko terhadap posisi pekerjaannya.

Tentu saja ketika menjalankan bisnis, terkadang seseorang dihadapkan dengan perilaku yang tidak etis. Apa saja factor yang menyebabkan perilaku tidak etis di tempat kerja? Yang pertama biasanya disebabkan target penjualan tidak realistis. Seorang sales marketing ditarget sejumlah nominal tertentu sehingga terkadang dirinya menghalalkan berbagai cara bahkan sering sikut menyikut rekan kerjanya agar target pekerjaannya tercapai. Selain itu, kekhawatiran keuangan pribadi terkadang menyebabkan seseorang karyawan berperilaku tidak etis, korupsi atau menerima uang suap misalnya. Factor lainnya antara lain komunikasi yang jelek antara karyawan dan atasannya.

Dengan demikian, organisasi memerlukan suatu tindakan untuk membentuk perilaku etis. Bagaimana organisasi membentuk perilaku etis? Pertama diawali dari Kesadaran Etis (Ethical Awareness); aturan perilaku yaitu pernyataan formal yang merumuskan bagaimana organisasi berharap dan menuntut karyawan untuk menyelesaikan masalah-masalah etika. Selanjutnya, adanya Pertimbangan Etis (Ethical Reasoning). Tidak semua dilema etis memiliki jawaban hitam dan putih. Banyak yang berada di wilayah abu-abu sehingga perlu dipilah dan dipilih konsekuensi yang mungkin terjadi. Untuk itu diperlukan pelatihan etika. Langkah lainnya adalah dengan Tindakan Etis (Ethical Action). Perusahaan membantu karyawan untuk bertindak etis dengan memberikan penguatan thd tindakan etis dan meniadakan peluang tindakan tidak etis. Yang terakhir tentunya adanya Kepemimpinan Etis (Ethical Leadership). Eksekutif/ top management harus menunjukan perilaku etis dalam keputusan dan tindakan mereka agar dapat dijadikan teladan oleh karyawannya.

Struktur Lingkungan Etis

Diskusikan kasus di bawah ini. Apakah yang dilakukan manager dan direktur suatu perusahaan ini legal dan etis? Ataukah etis namun tidak legal atau sebaliknya legal namun tidak etis? Kemukakan pendapat pribadi!
1. Seorang manajer mempekerjakan seorang temannya.
2. Presiden direktur perusahaan memakai sebagian besar keuntungan tahunan untuk membeli jet pribadi untuk perusahaan. Jet tersebut seharusnya untuk keperluan dinas, tetapi presiden direktur memakainya untuk terbang bermain golf dan rekreasi lain untuk dirinya. Konsekuensinya, jumlah deviden yang didistribusikan kepada pemegang saham lebih kecil.

Bahan Bacaan
• Ivancevich, J. M., Konopaske, R., Matteson, M. T. 2008. Perilaku dan Manajemen Organisasi – edisi ketujuh jilid 2. Jakarta: Penerbit Erlangga.
• Jones, G. R., George, J. M., 2008. Contemporary Management 5th ed. New York: McGraw-Hill/ Irwin.
• Robbins, S. P., and Coulter, M. 2012. Management- eleventh edition. Harlow: Pearson Education Limited.
• Sule, E. T., and Saefullah, K. 2010. Pengantar Manajemen- Edisi Pertama. Jakakta: Prenada Media Group.

Leave a Reply

%d bloggers like this: