wirania swasty

One fine Day in Bosphorus Strait

Karya ini pernah diikutkan dalam suatu pameran internasional bertajuk IMMEDIACY OF IMMAGE. Pameran yang diselenggarakan oleh Galeri Idealoka Fakultas Industri Kreatif Telkom University Bandung ini diadakan secara virtual tanggal 24 September 2020 hingga 8 Oktober 2020. Adapun peserta pameran internasional ini datang dari berbagai negara, seperti Malaysia, Jepang, Perancis, dan Indonesia.

Poster acara pameran

Adapun karya fotografi ini dibuat tahun 2019 ketika saya mengunjungi Istambul-Turki. Kota yang terletak di antara dua benua (Asia dan Eropa) itu sangat terkenal dengan keindahan panoramanya. Salah satunya adalah selat Bosphorus ini. Selat yang tak henti dari kesibukan ini memiliki banyak cerita sejarah sehingga sayang sekali jika tidak diabadikan oleh jepretan kamera.

One Fine Day in Bosphorus Strait

Teori Warna

Disclaimer: Uraian berikut saya COPAS dari buku yang ditulis oleh saya sendiri.

Terdapat tiga atribut utama: hue, nilai (value/luminansi), dan intensitas ( saturasi). Hue merupakan istilah yang digunakan untuk menunjukkan nama dari suatu warna misal merah, kuning, hijau, dan seterusnya. Nilai warna (value), yakni hubungan terang ke gelap dalam suatu warna. Intensitas ( saturasi/ kroma) merujuk pada cerah suramnya warna, daya pancar warna dan kemurnian maksimum dari warna spektrum. (Swasty, 2017: 11-12)

Warna primer merupakan warna dasar yang tidak dicampur. Termasuk golongan warna primer adalah merah, biru, dan kuning. Warna sekunder merupakan hasil campuran dua warna primer dengan perbandingan 1:1 (Swasty, 2017: 13)

Para ilmuwan mengklasifikasikan warna ke dalam dua sifat utama yang ekstrem yaitu warna panas dan warna dingin. Warna panas/hangat adalah keluarga merah, jingga, coklat, dan kuning. Warna-warna ini bersifat aktif, merangsang, positif, dan agresif dan sering diasosiasikan dengan api, darah, dan matahari. Sementara warna dingin/ sejuk adalah keluarga warna biru, hijau, dan ungu. Warna ini bersifat tenang, aman, mundur dan negatif dan diasosiasikan dengan air, langit, dan gunung (Swasty, 2017: 15).

Dari lingkaran warna ini dirumuskan teori keseimbangan warna yang terdiri dari diadik, triadik, dan tetradik. Komposisi warna diadik ini terdiri dari pasangan warna yang saling berseberangan dalam lingkaran warna. Sebagai contoh warna merah – hijau, kuning – ungu, biru – jingga. Warna triadik ini terdiri dari tiga warna berseberangan yang membentuk segitiga samasisi. skema warna tetradik yang terdiri dari empat warna berseberangan yang membentuk segiempat/bujursangkar (Swasty, 2017: 24).

Warna penting dalam menciptakan identitas visual. Umumnya ada dua macam warna pada identitas visual; warna pada logo dan warna perusahaan  (Swasty, 2017: 75).

Karena warna sendiri dapat meningkatkan brand recognition, maka sebaiknya warna turut dipertimbangkan dalam merancang komunikasi pemasaran yang efektif (Swasty, 2017: 82).

Referensi:

Swasty, W. 2017. Serba serbi warna: Penerapan pada Desain. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

buku Serba Serbi Warna: Penerapan pada Desain

Brand & Branding

Disclaimer: tulisan ini saya COPAS dari buku yang saya tulis sendiri tahun 2016 silam.

Brand

Brand atau merek merupakan sesuatu yang digunakan untuk membedakan produk atau jasa dengan produk atau jasa sejenis dengan fungsi pemenuhan kebutuhan yang sama. Selain pengertiannya, brand juga memiliki kriteria-kriteria yang harus dipenuhi. (Swasty, 2016:32)

Branding

Branding merupakan suatu program yang memfokuskan dan memproyeksikan nilai-nilai merek. Program ini meliputi penciptaan perbedaan antar produk bagi pelanggan dalam proses pengambilan keputusan pembelian serta pemberian nilai-nilai pada perusahaan (Swasty, 2016:18).

Tak hanya produk atau jasa saja yang dibranding, namun dapat berupa organisasi, perorangan, ritel, hingga gagasan (Swasty, 2016:37).

Terdapat beberapa kriteria dalam memilih dan menentukan unsur-unsur merek di antaranya mengesankan, bermakna, menyenangkan, dapat dialihkan, dapat menyesuaikan dan terlindungi (Swasty, 2016:67).

Logo merupakan identitas merek yang mengomunikasikan produk, layanan dan organisasi (Swasty, 2016:67).

Kemasan menjadi alat penting dalam menyampaikan informasi untuk membangun atau memperkuat asosiasi merek. (Swasty, 2016:68).

Prinsip perancangan logo menurut Jacob Cass dalam Swasty (2016:54)., desainer grafis asal Australia, di antaranya:

  • Logo harus mampu mendeskripsikan perusahaan atau produk,
  • Logo harus tetap efektif dan menarik sekalipun dicetak hitam-putih,
  • Simple dan mudah diingat (memorable),
  • Logo masih terbaca dan dapat dikenali dalam ukuran kecil.

Pada intinya logo haruslah sesuatu yang unik namun simple dan fleksibel baik dalam bentuk, warna dan ukuran. Adapun prinsip perancangan logo menurut Andrew Mcnally adalah balance, unity, Rhythm, Proportion, dan Dominance (Swasty, 2016:54-55).

Sumber:

Swasty, W. 2016. Branding: Memahami dan Merancang Strategi Merek. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Buku Branding: Memahami dan Merancang Strategi Merek